? ??????????????Never Leave? ????? ?? ???Rating: 5.0 (1 Rating)??8 Grabs Today. 981 Total Grabs. ??????Pre
view?? | ??Get the Code?? ?? ???????????????????????????????????????????Unreachable Star? ????? ?? ???Rating: 4.2 (9 Ratings)??7 Grabs Today. 3378 Total Grabs. ??????Preview?? | ??Ge BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS ?

Tuesday, October 27, 2009

Menjadi suami yang disukai: Indah di atas sunnah





sumber:http://arifardiyansah.wordpress.com

Kalau bukan karena kepatuhan kita pada ajaran Islam, memang sulit bagi kita mengakui otoritas siapapun selain kita. Karena dasarnya manusia itu selalu mau menang sendiri. Kalau kebetulan kita seorang isteri, payahlah kita mengakui otoritas seorang suami. Segala yang menjadi haknya yang kita anggap enak, tentu akan senang kita akui. Saat menjadi suamipun, kita masih ingin mencaplok hak-hak isteri bahkan hak-hak anak kita. Karena di jaman resesi ini, segala hal mengalami erosi mencengangkan, termasuk kepercayaan. Siapapun yang ada di depan kita, layak untuk tidak dipercayai. Itulah sebabnya, hari ini kita begitu menggebu-gebu memilih seorang pemimpin, namun akhirnya hanya untuk kita paksa turun dari kekuasaannya. Suami termasuk manusia yang memiliki kedudukan tergugat di posisinya. Gaung emansipasi terlalu ganas untuk sekadar diberi peringatan agar berhenti mengudara sejenak saja. Padahal ia lah biang keladi jadi terjadinya krisis kepercayaan terhadap pemimpin pertama kehidupan masyarakat kita, dalam sebuah keluarga, yaitu suami. Krisis itu makin diperparah, dengan makin banyaknya suami yang tak lagi mampu mengendalikan rumah tangga. Lalu kenapa itu bisa terjadi? Pertama, karena kegagalan mereka membangun kepribadian yang sehat, berbudi pekerti luhur dan konsisten terhadap panduan-panduan syariat. Kedua, karena ketidakberhasilan mereka menanamkan nilai-nilai kebajikan pada keluarga, dari soal-soal yang kecil, hingga yang terbesar. Dari persoalan keyakinan, hingga hal-hal praktis keseharian. Semua ini akan bisa diperjelas dalam lembaran-lembaran berikut.

Di sini, saya hanya ingin menegaskan, bahwa saat seorang suami gagal membentuk kepribadiannya sendiri agar menyatu dengan keluhuran ajaran syariat, lalu karena itu pula ia kembali gagal menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam keluarga, saat itu pula ia akan gagal total meraih cinta yang tulus dari isteri dan anak-anaknya. Ok, mungkin sebagian kita akan sedikit bertanya, ‘Bukankah banyak suami yang dicintai isterinya, dan disukai oleh anak-anaknya, sementara ia bukanlah orang yang patuh pada ajaran syariat?’ Seyogyanya saya jawab dengan, ya. Tapi terpaksa saya harus menjawab, ‘tidak.’ Karena semua itu akan kembali kepada kontraversi dalam pemaknaan cinta dan kasih sayang. Untuk hal ini, saya cuma akan menegaskan satu hal: cinta yang tulus hanyalah cinta yang dibangun di atas nilai-nilai kebenaran, yang berujung pada kepatuhan mutlak terhadap syariat Yang Maha Kuasa. Karena cinta kasih itu membutuhkan pelabuhan, dan tidak ada pelabuhan yang lebih aman dan lebih menjamin segala-galanya selain pelabuhan syariat Yang Maha Pengasih. Saya akan jelaskan begini. Seorang suami mencintai isterinya, dan si isteri juga mencintainya. Untuk apa mereka saling mencintai? Ke mana cinta mereka akan berakhir? ‘Cinta, ya cinta, titik!’ Bila itu jawabannya, maka itu adalah cinta palsu. Karena bagaimana mungkin cinta sejati tak dapat diungkapkan dasar dan tujuannya? Tapi kalau seseorang berani mengatakan, ‘Saya dan isteri saya, saling mencintai karena Allah. Kami saling mencintai, agar dapat berjumpa dengan Allah di Surga kelak, dan dapat berkumpul bersama sebagai suami isteri di kehidupan abadi,’ itulah cinta yang tulus. Karena ia memiliki dasar yang jelas. Meminjam pepatah minangkabau –tapi untuk makna yang lain–, ‘tak lapuk terkena hujan, tak lekang terkena panas, ‘ begitulah sosok cinta sejati. Cinta itu tak terhentikan, bahkan oleh kematian sekalipun. Ia menembus batas kehidupan ini, menyeberang ke kehidupan abadi. Dan cinta itu hanya dapat diperoleh, melalui perjuangan dalam menerapkan ajaran Allah. Seorang suami baru bisa memperolehnya, bila ia berhasil membimbing anak dan isterinya menuju jalan kebenaran sesungguhnya. Maka layaklah ia menjadi suami yang dicintai, disukai dan dikasihi oleh isteri, dan juga oleh anak-anaknya. Cinta, dalam makna yang sesungguhnya pula.

Maka dalam mengulas persoalan inipun, saya tidak mau terjebak dalam sudut pandang etika yang tidak mengacu pada standar kebenaran mutlak. Saya sama sekali tidak setuju, bahwa seorang suami akan bisa meraih cinta isterinya –bila itu adalah cinta sejati–, hanya dengan menjalankan sebagian dari nilai-nilai kebenaran yang wajib dimiliki seorang suami dalam Islam, sambil mengabaikan nilai-nilai lain. Karena betapa tak sedikit isteri yang terlihat begitu mencintai suaminya, hanya karena kekayaan yang dia miliki. Isteri semacam ini akan rentan perubahan dalam cintanya, ketika harus berhadapan dengan kesulitan materi. Ia bisa terlihat begitu patuh, begitu manja, begitu menyanjung-nyanjung suaminya, hanya karena si suami mampu memenuhi segala permintaan duniawinya. Bagaimana kiranya seandainya si suami jatuh miskin? Atau, kalaupun tidak miskin, tapi tak lagi mampu memenuhi segala tuntutan materinya, kecuali sebatas kemampuannya yang jauh menurun? Begitu pula seorang suami yang mampu menaklukkan hati isterinya, dengan ketampanannya, kegagahannya, atau kemampuan dahsyatnya di atas ranjang. Bagaimana kiranya sikap sang isteri, bila ia tiba-tiba berubah loyo, atau mulai menua dan berkurang ketampanannya, atau bahkan mengalami kecelakaan dan cacat permanen? Semuanya pasti dapat ditebak. Persoalannya, semua media itu tetaplah media yang sesungguhnya bebas nilai. Ia bisa menjadi bagian dari keberhasilan seorang suami menaklukkan hati isteri, bisa juga sebaliknya, atau bisa juga hanya mampu membuat isteri terpesona dalam masa yang sangat terbatas saja.

Kemudian, ada sebuah catatan. Saya tidak akan meletakkan kiat paling diperlukan untuk menjadi suami idaman, pada urutan pertama. Karena dalam sebuah pembahasan kompleks, tak setiap hal terpenting harus didahulukan penyebutannya. Karena itu logika yang keliru dan perlu disingkirkan. Islam tak mengakui logika seperti itu. Dalam arti, suatu saat bisa saja cara itu dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, dan bisa saja tidak dilakukan, juga dengan pertimbangan-pertimbangan lain. Contohnya, ketika dalam Al-Quran, setelah menyebutkan pembagian hak waris terhadap ashhaabul furuudh, Allah menyebutkan, ‘..semua itu dilakukan setelah ditunaikannya hak wasiat dan hutang…’ Kenapa Allah menyebutkan wasiat terlebih dahulu, padahal dalam ajaran syariat yang Allah buat sendiiri, Allah sudah menetapkan bahwa hutang harus lebih didahulukan. Ternyata Allah punya hikmah lain di balik itu. Wasiat disebutkan terlebih dahulu, karena banyak orang yang mengabaikannya. Sementara hutang, kalaupun tidak dibayarkan, kebanyakan orang yang dihutangi akan menuntut haknya kepada para ahli waris. Sedangkan wasiat, bila tidak didahulukan pembagiannya, kebanyakan justru dilupakan. Apalagi wasiat itu diberikan kepada orang yang sama sekali tak punya hubungan darah dengan si mayit, atau bahkan sekadar untuk keperluan sosial, dan apalagi bila para Ahli Waris sudah kebelet ingin menikmati warisan.

Jadi, terkadang prioritas bisa saja diletakkan bukan di bagian pertama, karena berbagai pertimbangan. Ada kalanya karena ada hal lain yang tidak sepenting itu, namun sering diabaikan, seperti kasus ayat di atas. Ada kalanya, untuk mengikuti alur pembahasan agar lebih runut. Dan bisa jadi juga karena mengikuti urut kacang, mana yang lebih dahulu mudah terlihat, itu yang dibahas. Semua itu ada seninya sendiri-sendiri. Dan Islam amat mengapresiasi metoda seperti itu, asalkan dengan tujuan agar pembahasan lebih mudah dicerna, dan lebih mudah dinikmati. Terbukti, bahwa ayat-ayat dan surat dalam Al-Quran juga tidak disusun sesuai dengan urutan kronologis saat diturunkan. Imam Al-Bukhari menyusun kitab hadits dan memulainya dengan menyebutkan hadits tentang tentang niat, lalu tentang turunnya wahyu. Sementara Imam Muslim tidak demikian, dan banyak Ahli Hadits menyusunnya mengikuti pelajaran fiqih yang dimulai dari bab thahaarah atau bersuci, tapi Imam Malik memilih memulai kitab Al-Muwatha dengan menyebutkan riwayat-riwayat tentang waktu shalat. Masing-masing punya alasan, dan tidak setiap yang disebutkan terlebih dahulu, berarti merupakan prioritas dalam segalanya. Ini perlu saya tegaskan, karena ada salah satu dari risalah yang mendapatkan gugatan seputar itu. Dalam risalah tersebut, saya menyebutkan beberapa kiat bagaimana orang bisa menjadi kaya dengan cepat. Seseorang yang membaca naskah itu bertanya, ‘Kenapa tidak dimulai dengan bertakwa kepada Allah? Atau dengan ilmu? Bukankah para ulama As-Salaf, biasa menyebutkan urutan berdasarkan prioritas?’ Jawabannya jelas, seperti saya tegaskan di atas.

Sebagai contoh, bisa dianalogikan dengan apabila saya bertanya kepada Anda. ‘Bagaimana cara Anda makan?’ sebagian Anda bisa saja menjawab, ‘Ambil makanan dengan sendok dengan tangan kanan, di arahkan ke mulut, dikunyah dan ditelan, ‘ karena bagi Anda makan itu adalah proses memasukkan makanan kedalam perut. Itupun akan disanggah oleh orang yang terbiasa akan tanpa sendok. Sebagian Anda mungkin menjawab, ‘Duduk dahulu dengan tenang, baru dekati makanan, baru dimakan,’ karena baginya memulai makan adalah dari proses sebelum menyantapnya. Sebagian lagi mungkin menjawab, ‘Dengan bekerja keras,’ karena ia memahami bahwa yang dimaksud bagaimana cara Anda makan, yaitu bagaimana cara Anda bisa makan. Bahkan ada pula yang menjawab singkat, ‘Dengan duduk di atas tikar, di atas bangku atau di atas lantai,’ karena ia menganggap yang dimaksud adalah cara Anda saat menyantap makanan. Ini sekadar untuk menegaskan bahwa berbagai catatan di bawah, tidak saya tulis berdasarkan prioritas pada nilai urgensinya, tapi karena berbagai pertimbangan lain. Salah satu dari yang terpenting adalah agar perhatian pembaca tidak tervokus pada lembaran-lembaran pertama buku ini saja. Bila hal-hal terpenting yang dibahas sudah disebutkan sesuai dengan prioritas tingkat urgensinya, maka semakin ke belakang pembaca akan semakin menyadari bahwa hal-hal yang dibahas semakin menurun tingkat urgensinya, semakin kurang penting dan kurang diperlukan, sehingga minat meneruskan bacaan bisa jadi akan semakin menurun pula.Wallahu a’lam

kutipan dari makalah ustadz abu umar basyier dalam salah satu buku beliau. semoga bermanfaat, amien.

Wednesday, October 21, 2009

sihir dan cara melindungi diri darinya

Sihir Dan Cara Melindungi Diri Darinya
Written by admin
Tuesday, 13 October 2009
Oleh Mohd Yaakub bin Mohd Yunus
sumber: http://al-qayyim.net






Apabila kita membicarakan tentang isu sihir maka kebiasaanya kita akan berhadapan dengan tiga golongan manusia iaitu mereka yang tidak mempercayai kewujudannya, mereka yang terpengaruh serta menggunakan khidmat ahli sihir dan mereka yang terlalu takut dengan kesan ilmu sihir sehingga tidak mengetahui apakah tindakan yang perlu dilakukan bagi melindungi diri mereka dari terkena sihir.

Apa itu sihir? Menurut Ibnu Qudamah Al-Maqdisi di dalam al-Mughni sihir adalah ikatan-ikatan, jampi-jampi, perkataan yang dilontarkan secara lisan mahupun tulisan, atau melakukan sesuatu yang mempengaruhi badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa berinteraksi langsung dengannya. Sihir ini mempunyai hakikat di antaranya ada yang boleh membunuh, menyakiti, membuat seseorang suami tidak boleh menggauli isterinya atau memisahkan pasangan suami isteri, atau membuat salah satu pihak membenci lainnya atau membuat kedua belah pihak saling mencintainya.



Amalan sihir ini sebenarnya mempunyai hubung kait yang rapat dengan alam jin dan syaitan. Tukang sihir, pawang, dukun atau bomoh menjalankan ilmu-ilmu hitamnya menerusi pertolongan jin dan syaitan. Ahli sihir perlu melakukan amalan-amalan syirik, khurafat dan tahyul terlebih dahulu demi untuk mengukir persahabatan yang erat dengan jin dan syaitan yang mereka pergunakan untuk melakukan kerja-kerja jahat mereka. Apabila tukang sihir meningkatkan amalan-amalan yang kufur tersebut, maka jin dan syaitan itu akan lebih taat kepadanya dan lebih cepat melaksanakan perintahnya. Sehubungan dengan itu tukang sihir dan syaitan merupakan teman setia yang saling bekerjasama dalam melakukan perbuatan yang terkutuk di sisi syarak dan ini merupakan perbuatan yang telah dicela oleh Allah S.W.T sebagaimana firman-Nya: “Dan bahawa sesungguhnya adalah (amat salah perbuatan) beberapa orang dari manusia, menjaga dan melindungi dirinya dengan meminta pertolongan kepada ketua-ketua golongan jin, kerana dengan permintaan itu mereka menjadikan golongan jin bertambah sombong dan jahat.” (al-Jinn : 6)

Bagi sesetengah pihak, sekiranya sesuatu perkara itu tidak boleh dibuktikan mengikut kaedah saintifik maka dia akan menolaknya secara mentah-mentah seolah-olah ilmu sains itu merupakan suatu cabang ilmu yang telah sempurna tanpa cacat-cela. Tahukah mereka bahawa ilmu sains itu sentiasa berkembang dan penemuan-penemuan baru sentiasa diumumkan dari masa ke semasa. Adakalanya penemuan-penemuan baru itu membatalkan penemuan-penemuan terdahulu yang setelah diteliti semula ia didapati kurang tepat. Tidak mustahil juga sekiranya sesuatu perkara itu tidak dapat dibuktikan oleh teknologi sains pada masa kini tetapi dapat disahkan benar pada masa hadapan. Dalam erti kata lain ilmu Sains bukanlah sesuatu cabang ilmu yang telah sempurna atau maksum. Sesuatu perkara itu hanya kita boleh diyakini sebagai seratus peratus benar sekiranya ia termaktub di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah.

Apa pun sihir dan alam jin ini sebenarnya termasuk dalam perkara-perkara ghaib dan bagi umat Islam perkara sedemikan rupa hendaklah kita tunduk dan patuh kepada nas-nas dari al-Qur’an dan hadis. Sekiranya sihir itu tidak wujud mana mungkin Allah S.W.T menyuruh kita berlindung diri dari perbuatan tukang sihir sebagaimana firman-Nya: Katakanlah (wahai Muhammad); "Aku berlindung kepada (Allah) Tuhan yang menciptakan sekalian makhluk, dari bencana makhluk-makhluk yang Dia ciptakan; dan dari bahaya gelap apabila ia masuk; dan dari kejahatan makhluk-makhluk (tukang sihir) yang menghembus-hembus pada simpulan-simpulan (dan ikatan-ikatan); dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan dengkinya". (al-Falaq : 1-5) Di dalam al-Qur’an juga terdapat kisah-kisah tentang Nabi Musa a.s. bertarung dengan tukang-tukang sihir Fir’aun. Bahkan dalam riwayat hidup Rasulullah baginda juga pernah terkena sihir Labid bin al-A'sham, seorang tukang sihir Yahudi sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

Bagi mereka yang terbabit dengan perbuatan sihir dan suka bertemu dengan ahli sihir seperti pawang, dukun dan bomoh, ketahuilah bawah amalan sihir ini termasuk dalam kategori dosa-dosa besar. Nabi s.a.w. bersabda: “Jauhilah diri kamu daripada tujuh dosa yang boleh membinasakan.” Baginda ditanya: “Apakah dosa itu wahai Rasulullah?” Baginda berkata: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan jalan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran perang dan menuduh perempuan yang suci melakukan zina.”(Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

Sehubungan dengan itu adalah diharamkan untuk bertemu bahkan mempercayai ahli sihir dan tukang ramal kerana ia merupakan perbuatan yang kufur. Sabdanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda,burung dan lain-lain), yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang dia katakan, maka sesungguhnya dia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w."(Hadis riwayat al-Bazzaar)

Tukang-tukang sihir ini telah banyak melakukan kerosakan serta huru-hara di dalam sesebuah masyarakat. Lantaran itu majoriti para ulama mengharuskan hukuman bunuh terhadap tukang sihir. Akan tetapi Imam al-Syafi’i r.h berpendapat tukang sihir hanya boleh dikenakan hukuman bunuh sekiranya dia menggunakan ilmu sihirnya itu untuk membunuh jiwa insan yang lain. Imam al-Syafi’i mengkategorikan hukuman terhadap tukang sihir ini sebagai qisas.

Dalam usaha seseorang itu untuk menghindarkan diri dari terkena sihir, janganlah pula dia turut mengamalkan perbuatan yang memiliki unsur sihir atau meminta pertolongan daripada ahli sihir. Hendaklah setiap umat Islam melindungi diri mereka dari niat jahat tukang-tukang sihir itu dengan membaca ayat-ayat al-Qur’an serta doa-doa yang telah diajar oleh Rasulullah s.a.w. Berikut adalah beberapa petua yang di ambil dari hadis-hadis baginda.

§ Membaca ayat Kursi iaitu surah al-Baqarah ayat 255 setiap kali selesai solat lima waktu dan sebelum tidur.

§ Membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq dan al-Naas setiap kali selesai solat lima waktu dan membaca ketiga surah tersebut sebanyak tiga kali pada pagi hari sesudah solat Subuh dan menjelang malam sesudah solat Maghrib.

§ Membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah iaitu ayat 285-286 pada permulaan malam.

§ Membaca doa




أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ



"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya" pada malam hari dan siang hari ketika ingin pergi atau masuk ke sesuatu tempat.




§ Membaca doa


بِسْمِ اللهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ



"Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya, tidak ada sesuatu pun yang membahayakan, baik di bumi mahupun di langit dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." tiga kali pada pagi hari dan menjelang malam.


Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz r.h bacaan-bacaan zikir dan permohonan perlindungan di atas ini merupakan sebab-sebab yang besar untuk memperoleh keselamatan dan untuk menjauhkan diri dari kejahatan sihir atau kejahatan lainnya iaitu bagi mereka yang selalu mengamalkannya secara benar disertai keyakinan yang penuh kepada Allah, bertumpu dan pasrah kepada-Nya dengan lapang dada dan hati yang khusyuk.

"ada apa aku dan dunia ini?"

“Ada apa aku dan dunia ini! Tiadalah dunia dan aku ini melainkan seperti seorang pengembara yang berlindung dari panas di bawah sepohon pokok, kemudian pergi meninggalkannya”. (Riwayat al-Tirmizi, dinilai sahih oleh al-Albani).

Wednesday, September 30, 2009

kedudukan wanita dalam Islam

Kedudukan Wanita Dalam Islam
Berikut ini adalah jawaban dari pertanyaan yang terdapat dalam majalah Al-Jail di Riyadh (Arab Saudi) tentang kedudukan wanita dalam Islam yang disampaikan oleh Syaikh Ibnu Baz.

***

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada siapa saja yang meniti jalannya sampai hari pembalasan.

Sesungguhnya wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal.

Kesesatan dan penyimpangan umat tidaklah terjadi melainkan karena jauhnya mereka dari petunjuk Allah dan dari ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul-Nya. Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, di mana kalian tidak akan tersesat selama berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’ kitab Al-Qadar III)

Sungguh telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an betapa pentingnya peran wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, mapun sebagai anak. Demikian pula yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Adanya hal-hal tersebut juga telah dijelaskan dalam sunnah Rasul.

Peran wanita dikatakan penting karena banyak beban-beban berat yang harus dihadapinya, bahkan beban-beban yang semestinya dipikul oleh pria. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita untuk berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya, dan santun dalam bersikap kepadanya. Kedudukan ibu terhadap anak-anaknya lebih didahulukan daripada kedudukan ayah. Ini disebutkan dalam firman Allah,

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)

Begitu pula dalam firman-Nya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)

Dari hadits di atas, hendaknya besarnya bakti kita kepada ibu tiga kali lipat bakti kita kepada ayah. Kemudian, kedudukan isteri dan pengaruhnya terhadap ketenangan jiwa seseorang (suami) telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir -semoga Alah merahmatinya- menjelaskan pengertian firman Allah: “mawaddah wa rahmah” bahwa mawaddah adalah rasa cinta, dan rahmah adalah rasa kasih sayang.

Seorang pria menjadikan seorang wanita sebagai istrinya bisa karena cintanya kepada wanita tersebut atau karena kasih sayangnya kepada wanita itu, yang selanjutnya dari cinta dan kasih sayang tersebut keduanya mendapatkan anak.

Sungguh, kita bisa melihat teladan yang baik dalam masalah ini dari Khadijah, isteri Rasulullah, yang telah memberikan andil besar dalam menenangkan rasa takut Rasulullah ketika beliau didatangi malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama kalinya di goa Hira’. Nabi pulang ke rumah dengan gemetar dan hampir pingsan, lalu berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Demi melihat Nabi yang demikian itu, Khadijah berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)

Kita juga tentu tidak lupa dengan peran ‘Aisyah. Banyak para sahabat, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, menerima hadits darinya berkenaan dengan hukum-hukum agama.

Kita juga tentu mengetahui sebuah kisah yang terjadi belum lama ini berkenaan dengan istri Imam Muhammad bin Su’ud, raja pertama kerajaan Arab Saudi. Kita mengetahui bahwa isteri beliau menasehati suaminya yang seorang raja itu untuk menerima dakwah Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab. Sungguh, nasehat isteri sang raja itu benar-benar membawa pengaruh besar hingga membuahkan kesepakatan antara Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Imam Muhammad bin Su’ud untuk menggerakkan dakwah. Dan -alhamdulillah— kita bisa merasakan hasil dari nasehat istri raja itu hingga hari ini, hal mana aqidah merasuk dalam diri anak-anak negeri ini. Dan tidak bisa dipungkiri pula bahwa ibuku sendiri memiliki peran dan andil yang besar dalam memberikan dorongan dan bantuan terhadap keberhasilan pendidikanku. Semoga Allah melipat gandakan pahala untuknya dan semoga Allah membalas kebaikannya kepadaku tersebut dengan balasan yang terbaik.

Tidak diragukan bahwa rumah yang penuh dengan rasa cinta, kasih dan sayang, serta pendidikan yang islami akan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Dengan izin Allah seseorang yang hidup dalam lingkungan rumah seperti itu akan senantiasa mendapatkan taufik dari Allah dalam setiap urusannya, sukses dalam pekerjaan yang ditempuhnya, baik dalam menuntut ilmu, perdagangan, pertanian atau pekerjaan-pekerjaan lain.

Kepada Allah-lah aku memohon semoga Dia memberi taufik-Nya kepada kita semua sehingga dapat melakukan apa yang Dia cintai dan Dia ridhai. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabat-sahabatnya. (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz III/348)

Tidak Suka Dengan Kelahiran Anak Wanita Termasuk Perilaku Jahiliyah

Tanya: Pada zaman ini, kita sering mendengar perkara-perkara yang biasa menjadi bahan perdebatan orang karena ganjilnya. Di antaranya mungkin kita pernah mendengar sebagian orang mengatakan, “Kami tidak suka menggauli istri kami jika yang lahir adalah anak perempuan.” Sebagian lagi mengatakan kepada istrinya, “Demi Allah, jika engkau melahirkan anak perempuan, saya akan menceraikanmu.” -Kita berlepas diri dari orang-orang seperti itu-. Sebagian dari wanita ada yang mendapatkan perlakuan semacam itu dari suaminya. Mereka merasa gelisah dengan perkataan suaminya yang seperti itu. Bagaimana dan apa yang mesti mereka perbuat terhadap perkataan suami seperti itu? Apa nasehat Syaikh dalam masalah ini?

Jawab: Saya yakin apa yang dikatakan saudara penanya adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi. Saya tidak habis pikir, bagaimana ada seorang suami yang kebodohannya sampai pada taraf seperti itu; mengultimatum akan menceraikan isterinya jika anak yang dilahirkannya anak perempuan. Lain masalahnya, kalau sebenarnya dia sudah tidak suka dengan isterinya, kemudian ingin menceraikannya dan menjadikan masalah ini sebagai alasan agar dapat menceraikannya. Jika ini masalah yang sebenarnya; dia sudah tidak bisa bersabar lagi untuk hidup bersama isterinya, dan telah berusaha untuk tetap hidup berdampingan dengannya akan tetapi tidak berhasil; jika ini masalah yang sebenarnya, hendaknya dia mencerai istrinya dengan cara yang jelas, bukan dengan alasan seperti itu.

Karena perceraian dibolehkan asalkan dengan dengan alasan yang syar’i. Akan tetapi, meskipun demikian, kami menasehatkan kepada para suami yang mendapatkan hal-hal yang tidak disukai pada diri isterinya agar bersabar, sebagaimana yang difirmankan Allah, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (isteri-isteri kamu), (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)

Adapun membenci anak perempuan, tidak diragukan bahwa itu merupakan perilaku jahiliyah, dan di dalamnya terkandung sikap tasakhuth (tidak menerima) terhadap apa yang telah menjadi ketetapan dan takdir Allah. Manusia tidak tahu, mungkin saja anak-anak perempuan yang dimilikinya akan lebih baik baginya daripada mempunyai banyak anak laki-laki. Berapa banyak anak-anak perempuan justru menjadi berkah bagi ayahnya baik semasa hidupnya maupun setelah matinya. Dan berapa banyak anak-anak lelaki justru menjadi bala dan bencana bagi ayahnya semasa hidupnya dan tidak memberi manfaaat sedikit pun setelah matinya.

Rujukan:
Fatawa Ulama al-Balad al-Haram hal. 519.
Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz (III/348).

Sumber: Majalah Fatawa

Sunday, August 23, 2009

Mari menambah ilmu..selamat datang ke kedai buku sunshine bookstore!!!!

assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

BERKHIDMAT UNTUK PEMBANGUNAN UMMAH!!!

alhamdulillah dengan beberapa orang sahabat, kami telah melancarkan sebuah kedai buku yang menjual pelbagai jenis buku termasuk buku-buku agama,al-Quran, kitab- kitab muktabar, buku-buku perbandingan agama , majalah-majalah ilmiah seperti Times ,surat khabar dan macam - macam lagi seperti minyak atar, batch islamik...

jika anda ingin mendapatkan madu lebah jenis tualang juga terdapat di sini. kami juga meNjual jubah untuk muslimin dan muslimah, baju melayu dan baju raihan .bersempena dengan bulan ramadhan kedai kami juga menjual buah tamar.

lokasi kedai : Pasar pelajar USM. bersebelahan kedai unicreatif dan ekon Shop. ( Dalam Kawasan Universiti Sains malaysia...

sebarang pertanyaan atau tempahan boleh hubungi :
019-4193587 ( rahilah)

selamat datang....kami berkhidmat untuk pembangunan ummah...WELCOME TO OUR SHOP...SUNSHINE BOOKSTORE...!!!

melahirkan graduan berdikari dan bijak berniaga...insyaALLAH...

Thursday, March 5, 2009

Masih ada jalan keluar


Oleh : Ilham Fatahillah
sumber: email yang di hantar oleh sahabat.( jazakllAH ukhti manis :-) )
asiah_islam@yahoo.com.my

MASIH ADA JALAN KELUAR


Ketika permasalahan hidup membelit dan kebingungan serta kegalauan mendera rasa hati. Ketika gelisah jiwa menghempas-hempas. Ketika semua pintu solusi terlihat buntu. Dan kepala serasa hendak meledak: tak mengerti apalagi yang mesti dilakukan. Tak tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh. Hingga dunia terasa begitu sempit dan menyesakkan.

Ketika kepedihan merujit-rujit hati. Ketika kabut kesedihan meruyak, menelusup ke dalam sanubari. Atas musibah-musibah yang beruntun mendera diri. Apalagi yang dapat dilakukan untuk meringankan beban perasaan? Apalagi yang dapat dikerjakan untuk melepas kekecewaan?

Ketika kesalahan tak sengaja dilakukan. Ketika beban dosa terasa menghimpit badan. Ketika rasa bersalah mengalir ke seluruh pembuluh darah. Ketika penyesalan menenggelamkan diri dalam air mata kesedihan. Apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban jiwa ini?

Allah berfirman, "Barangsiapa bertakwa kepada-Nya, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar."

Rasulullah bersabda, "Ikutilah kesalahan dengan amal baik, niscaya ia akan menghapus dosa-dosamu."

Ibnul Jauzi pernah berkata, "aku pernah dihimpit permasalahan yang membuatku gelisah dan galau berlarut-larut. Kupikirkan dan kucari solusi dengan segala cara dan usaha. Tapi aku tidak menemukan satu jalan pun untuk keluar darinya, hingga kutemukan ayat itu. Maka kusadari, bahwa jalan satu-satunya keluar dari segala kegalauan adalah ketakwaan. Dan ketika jalan ketakwaan itu kutempuh, tiba-tiba Allah sudah lebih dulu menurunkan penyelesaian. Maha suci Allah".

Sungguh kita semua pasti pernah merasakan kebuntuan hati. Seolah semua jalan keluar sudah tertutup rapat. Maka saat itulah kita baru menyadari betapa lemahnya kita dan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.

Menyadari kelemahan bukan berarti pasrah sebelum ikhtiar. Bukan pula pembenaran atas segala kesalahan dan kecerobohan. Namun sebagai bentuk bersandarnya hati pada Dzat yang Maha Besar yaitu Allah SWT, manakala semua langkah ikhtiar untuk keluar dari permasalahan sudah dicoba.

Saudaraku.... Tapakilah jalan takwa, niscaya akan datang pertolongan Allah. Dan segala kegelisahan pun akan segera sirna. Wallahu a'lam.

PEKERJAAN WANITA MUSLIMAH...

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah boleh bekerjanya
kaum wanita di kantor-kantor, yaitu jika bekerjanya itu di kantor urusan
agama dan perwakafan ?

Jawaban
Bekerjanya kaum wanita di kantor-kantor tidak terlepas dari dua kemungkinan.

Pertama.
Di kantor-kantor khusus wanita, misalnya kantor pembinaan sekolah-sekolah
puteri dan sejenisnya yang hanya dikunjungi oleh kaum wanita. Bekerjanya
wanita di kantor semacama ini tidak apa-apa.

Kedua.
Jika dikantornya terjadi campur baur antara kaum laki-laki dengan kaum
wanita, maka wanita tidak boleh bekerja di sana dengan mitra kerja laki-laki
yang sama-sama bekerja di satu tempat bekerja. Demikian ini karena bisa
terjadi fitnah akibat bercampur baurnya kaum laki-laki dengan kaum wanita.

Nabi saw telah memperingatkan umatnya terhadap
fitnah kaum wanita, beliau mengabarkan bahwa setelah meninggalnya beliau,
tidak ada fitnah yang lebih membahayakan kaum laki-laki dari pada fitnahnya
kaum wanita, bahkan di tempat-tempat ibadah pun Nabi Shallallahu
saw sangat menganjurkan jauhnya kaum wanita dari kaum laki-laki,
sebagaimana disebutkan dalam salah satu sabda beliau.

Artinya : Sebaik-baik shaf kaum wanita adalah yang paling akhir (paling
belakang) dan seburuk-buruknya adalah yang pertama (yang paling depan)
[Hadits Riwayat Muslim dalam Ash-Shalah 440]

Karena shaf pertama (paling depan) adalah shaf yang paling dekat dengan shaf
kaum laki-laki sehingga menjadi shaf yang paling buruk, sementara shaf yang
paling akhir (paling belakang) adalah yang paling jauh dari shaf laki-laki.
Ini bukti nyata bahwa syariat menetapkan agar wanita menjauhi campur
baur dengan laki-laki. Dari hasil pengamatan terhadap kondisi umat jelas sekali
bahwa campur baurnya kaum wanita dengan kaum laki-laki merupakan fitnah
besar yang mereka akui, namun kini mereka tidak bisa melepaskan diri dari
itu begitu saja, karena kerusakan merajalela.

[Nur ââ‚ËœAla Ad-Darb, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal.82-83]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syariyyah Fi Al-Masail
Al-Ashriyyah
Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2,
hal 520 - 521 Darul Haq]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=969&bagian=0

Thursday, February 5, 2009

Bersatu dan Berpisah kerana ALLAH...

Kondisi umat Islam yang berpecah sering
memunculkan keprihatinan. Dari beberapa tokoh Islam sering muncul
ajakan agar semua kelompok bersatu dalam satu wadah, tidak perlu
mempermasalahkan perbedaan yang ada karena yang penting tujuannya sama
yaitu memajukan Islam. Mungkinkah umat Islam bersatu dan bagaimana
caranya?

Persatuan dan perpecahan merupakan dua kata yang saling berlawanan.
Persatuan identik dengan keutuhan, persaudaraan, kesepakatan, dan
perkumpulan. Sedangkan perpecahan identik dengan perselisihan,
permusuhan, pertentangan dan perceraian.

Persatuan merupakan perkara yang diridhai dan diperintahkan oleh
Allah, sedangkan perpecahan merupakan perkara yang dibenci dan dilarang
oleh-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:


“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah telah
memerintahkan kepada mereka (umat Islam, red) untuk bersatu dan
melarang mereka dari perpecahan. Dalam banyak hadits juga terdapat
larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 1/367)

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata: “Sesungguhnya
Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan
kepada kita satu jalan yang wajib ditempuh oleh seluruh kaum muslimin,
yang merupakan jalan yang lurus dan manhaj bagi agama-Nya yang benar
ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan bahwasanya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang
lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan
(yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari
jalan-Nya. Yang demikian itu Allah perintahkan kepada kalian agar
kalian bertaqwa.” (Al-An’am: 153).

Sebagaimana pula Dia telah melarang umat Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam dari perpecahan dan perselisihan pendapat, karena yang
demikian itu merupakan sebab terbesar dari kegagalan dan merupakan
kemenangan bagi musuh. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:


“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

Dan firman-Nya ta’ala:

Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada
Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu: ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kalian
berpecah belah tentangnya’. Amat berat bagi orang musyrik agama yang
kalian seru mereka kepada-Nya.” (Asy-Syura: 13).

(Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Mutanawwi’ah, 5/202, dinukil dari
kitab Jama’ah Wahidah Laa Jama’at, karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi
Al-Madkhali, hal. 176)

Asas dan Hakekat Persatuan

Asas bagi persatuan yang diridhai dan diperintahkan oleh Allah,
bukanlah kesukuan, organisasi, kelompok, daerah, partai, dan lain
sebagainya. Akan tetapi asasnya adalah: Al

Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan
pemahaman As-Salafush Shalih. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Allah subhanahu wa ta’ala
mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al Quran)
dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi
perselisihan. Ia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas
Al Qur’an dan As Sunnah secara keyakinan dan amalan, itulah sebab
keselarasan kata dan bersatunya apa yang tercerai-berai, yang dengannya
akan teraih maslahat dunia dan agama serta selamat dari perselisihan…”
(Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sebagaimana
tidak ada generasi yang lebih sempurna dari generasi para shahabat,
maka tidak ada pula kelompok setelah mereka yang lebih sempurna dari
para pengikut mereka. Maka dari itu siapa saja yang lebih kuat dalam
mengikuti hadits Rasulullah dan Sunnahnya, serta jejak para shahabat,
maka ia lebih sempurna. Kelompok yang seperti ini keadaannya, akan
lebih utama dalam hal persatuan, petunjuk, berpegang teguh dengan tali
(agama) Allah dan lebih terjauhkan dari perpecahan, perselisihan, dan
fitnah. Dan siapa saja yang menyimpang jauh dari itu (Sunnah Rasulullah
dan jejak para shahabat), maka ia akan lebih jauh dari rahmat Allah dan
lebih terjerumus ke dalam fitnah.” (Minhaajus Sunnah, 6/368)

Oleh karena itu, walaupun berbeda-beda wadah, organisasi, yayasan
dan semacamnya, namun dengan syarat “tidak fanatik dengan ‘wadah’-nya
dan berada di atas satu manhaj”, berpegang teguh dengan Al Qur’an dan
Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman para
shahabat (As-Salafush Shalih), maka ia tetap dinyatakan dalam koridor
persatuan dan bukan bagian dari perpecahan.

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata: “Tidak
masalah jika mereka berkelompok-kelompok di atas jalan ini, satu
kelompok di Ib dan satu kelompok di Shan’a, akan tetapi semuanya berada
di atas manhaj salaf, mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, berdakwah di
jalan Allah dan ber-intisab kepada Ahlus Sunnah Wal Jamaah, tanpa ada
sikap fanatik terhadap kelompoknya. Yang demikian ini tidak mengapa,
walaupun berkelompok-kelompok, asalkan satu tujuan dan satu jalan
(manhaj).” (At-Tahdzir Minattafarruqi Wal Hizbiyyah, karya Dr. Utsman
bin Mu’allim Mahmud dan Dr. Ahmad bin Haji Muhammad, hal. 15).


Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata:
“Bila kita anggap bahwa di negeri-negeri kaum muslimin terdapat
kelompok-kelompok yang berada di atas manhaj ini (manhaj salaf, pen),
maka tidak termasuk kelompok-kelompok perpecahan. Sungguh ia adalah
satu jamaah, manhajnya satu dan jalannya pun satu. Maka
terpisah-pisahnya mereka di suatu negeri bukanlah karena perbedaan
pemikiran, aqidah dan manhaj, akan tetapi semata perbedaan letak/tempat
di negeri-negeri tersebut. Hal ini berbeda dengan kelompok-kelompok dan
golongan-golongan yang ada, yang mereka itu berada di satu negeri namun
masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya.”
(Jama’ah Wahidah Laa Jama’at, hal. 180).

Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa bila suatu persatuan
berasaskan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
dengan pemahaman para shahabat (As-Salafush Shalih) maka itulah
sesungguhnya hakekat persatuan yang diridhai dan diperintahkan oleh
Allah subhanahu wa ta’ala, walaupun terpisahkan oleh tempat.

Bahaya Perpecahan

Bila kita telah mengetahui bahwa hakekat persatuan yang diridhai
dan diperintahkan oleh Allah adalah yang berasaskan Al Qur’an dan As
Sunnah dengan pemahaman As-Salafush Shalih, maka bagaimana dengan
firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang ada di masyarakat kaum muslimin,
yang masing-masing berpegang dengan prinsip dan aturan kelompoknya,
saling bangga satu atas yang lain, loyalitasnya dibangun di atas
kungkungan ikatan kelompok, apakah sebagai embrio persatuan umat,
ataukah sebagai wujud perpecahan umat?

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata: “Tidak diragukan
lagi bahwa banyaknya firqah dan jamaah di masyarakat kaum muslimin
merupakan sesuatu yang diupayakan oleh setan dan musuh-musuh Islam dari
kalangan manusia.” (Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Mutanawwi’ah, 5/204,
dinukil dari kitab Jama’ah Wahidah Laa Jama’at, hal. 177).

Beliau juga berkata: “Adapun berkelompok untuk Ikhwanul Muslimin
atau Jama’ah Tabligh atau demikian dan demikian, kami tidak
menasehatkannya, ini salah! Akan tetapi kami nasehatkan mereka semua
agar menjadi satu golongan, satu kelompok, saling berwasiat dengan
kebenaran dan kesabaran, serta bersandar kepada Ahlus Sunnah Wal
Jamaah.” (At-Tahdzir Minattafarruqi wal Hizbiyyah, hal. 15).

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata:
“Tidaklah asing bagi setiap muslim yang memahami Al Qur’an dan As
Sunnah serta manhaj As-Salafush Shalih, bahwasanya bergolong-golongan
bukan dari ajaran Islam, bahkan termasuk yang dilarang oleh Allah
subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat dari Al Qur’anul Karim, di
antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala:


“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan
Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka
menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa
yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32).[Fataawa Asy-Syaikh
Al-Albani, karya ‘Ukasyah Abdul Mannan, hal. 106, dinukil dari Jama’ah
Wahidah Laa Jama’at, hal. 178]



Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“Dan tidak diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok ini menyelisihi apa
yang telah diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan
menyelisihi apa yang selalu dihimbau dalam firman-Nya:



“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kalian semua, agama
yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian, maka bertakwalah kepada-Ku.”
(Al-Mu’minun: 52)



Lebih-lebih tatkala kita melihat akibat dari perpecahan dan
bergolong-golongan ini, di mana tiap-tiap golongan mengklaim yang
lainnya dengan kejelekan, cercaan dan kefasikan, bahkan bisa lebih dari
itu. Oleh karena itu saya memandang bahwa bergolong-golongan ini adalah
perbuatan yang salah.” (At-Tahdzir Minattafarruqi wal Hizbiyyah, hal.
16).



Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Agama kita adalah
agama persatuan, dan perpecahan bukanlah dari agama. Maka berbilangnya
jamaah-jamaah ini bukanlah dari ajaran agama, karena agama
memerintahkan kepada kita agar menjadi satu jamaah.” (Muraja’at fii
Fiqhil Waaqi’ As Siyaasi wal Fikri, karya Dr. Abdullah bin Muhammad
Ar-Rifa’i rahimahullah, hal. 44-45).



Beliau juga berkata: “Hanya saja akhir-akhir ini, muncul
kelompok-kelompok yang disandarkan kepada dakwah dan bergerak di bawah
kepemimpinan yang khusus, masing-masing kelompok membuat manhaj
tersendiri, yang akhirnya mengakibatkan perpecahan, perselisihan dan
pertentangan di antara mereka, yang tentunya ini dibenci oleh agama dan
terlarang di dalam Al Qur’an dan As Sunnah.” (Taqdim/Muqaddimah kitab
Jama’ah Wahidah Laa Jama’at).

Bukankah mereka juga berpegang dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah? Demikian terkadang letupan hati berbunyi.

Asy-Syaikh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi berkata: “Jika benar apa
yang dinyatakan oleh kelompok-kelompok yang amat banyak ini, bahwa
mereka berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah, niscaya mereka tidak
akan berpecah belah, karena kebenaran itu hanya satu dan berbilangnya
mereka merupakan bukti yang kuat atas perselisihan di antara mereka,
suatu perselisihan yang muncul dikarenakan masing-masing kelompok
berpegang dengan prinsip yang berbeda dengan kelompok lainnya. Tatkala
keadaannya demikian, pasti terjadi perselisihan, perpecahan, dan
permusuhan.” (An-Nashrul Azis ‘Alaa Ar Raddil Waziz, karya Asy-Syaikh
Rabi’ bin Hadi Al Madkhali rahimahullah, hal. 46)

Pertanyaan Penting

1.Bagaimanakah masuk menjadi anggota kelompok-kelompok yang ada dengan tujuan ingin memperbaiki dari dalam ?

Asy-Syaikh Abdul ‘Azis bin Baaz rahimahullah berkata: “Adapun
berkunjung untuk mendamaikan di antara mereka, mengajak dan mengarahkan
kepada kebaikan dan menasehati mereka, dengan tetap berpijak di atas
jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah maka tidak apa-apa. Adapun menjadi
anggota mereka, maka tidak boleh. Dan jika mengunjungi Ikhwanul
Muslimin atau Firqah Tabligh dan menasehati mereka karena Allah seraya
berkata: ‘Tinggalkanlah oleh kalian fanatisme, wajib bagi kalian
(menerima) Al Qur’an dan As Sunnah, berpegang teguhlah dengan keduanya,
bergabunglah kalian bersama orang-orang yang baik, tinggalkanlah
perpecahan dan perselisihan’, maka ini adalah nasehat yang baik.”
(At-Tahdzir Minattafarruqi Wal Hizbiyyah, hal. 15-16)



2. Bukankah dengan adanya peringatan terhadap kelompok-kelompok yang
ada dan para tokohnya, justru semakin membuat perpecahan dan tidak akan
terwujud persatuan?

Asy-Syaikh Hamd bin Ibrahim Al-‘Utsman berkata: “Kebanyakan
orang-orang awam dari kaum muslimin kebingungan dalam permasalahan ini,
mereka mengatakan: ‘Mengapa sesama ulama kok saling memperingatkan satu
dari yang lain?!’ Di kalangan terpelajar pun demikian, mereka meminta
agar bantahan dan peringatan terhadap orang-orang yang salah dan
ahlulbid’ah dihentikan demi terwujudnya persatuan dan kesatuan umat.
Mereka tidak mengetahui bahwa bid’ah-bid’ah, kesalahan-kesalahan dan
jalan yang berbeda-beda (dalam memahami agama ini, pen) justru
merupakan faktor utama penyebab perpecahan, dan faktor utama yang dapat
mengeluarkan manusia dari jalan yang lurus. Dengan tetap adanya
jalan-jalan yang menyimpang itu, tidak akan terwujud persatuan
selama-lamanya.” (Zajrul Mutahaawin bi Dharari Qa’idah Al-Ma’dzirah
Watta’aawun, hal. 98)


Nasehat dan Ajakan

Asy-Syaikh ‘Ubaid bin Abdullah Al-Jabiri berkata: “Tidak ada solusi
dari perpecahan, tercabik-cabiknya kekuatan dan rapuhnya barisan
kecuali dengan dua perkara:

Pertama: Menanggalkan segala macam bentuk penyandaran (atau
keanggotaan) yang dibangun di atas ikatan kelompok-kelompok nan sempit,
yang dapat menimbulkan perpecahan dan permusuhan.


Kedua: Kembali kepada jamaah Salafiyyah (yang bermanhaj salaf,
pen), karena sesungguhnya dia adalah ajaran yang lurus, dan cahaya
putih yang terang benderang, malamnya sama dengan siangnya, tidaklah
ada yang tersesat darinya kecuali orang-orang yang binasa. Dia adalah
Al-Firqatun Najiyah (golongan yang selamat, pen), dan At-Thaifah
Al-Manshurah (kelompok yang ditolong dan dimenangkan oleh Allah, pen).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: ‘Tidak tercela bagi
siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar
kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati dan wajib diterima,
karena manhaj salaf pasti benar...’.” (Tanbih Dzawil ‘Uquulis Salimah
ilaa Fawaida Mustanbathah Minassittatil Ushulil ‘Azhimah, hal. 24).

Sungguh benar apa yang dinasehatkan oleh Asy-Syaikh ‘Ubaid bin
Abdullah Al-Jabiri, karena As-Salafiyyah tidaklah sama dengan
kelompok-kelompok yang ada. As-Salafiyyah tidaklah dibatasi
(terkungkung) oleh organisasi tertentu, kelompok tertentu, daerah
tertentu, pemimpin tertentu… suatu kungkungan hizbiyyah yang sempit,
bahkan As-Salafiyyah dibangun di atas Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman As-Salafush Shalih. Siapa
pun yang berpegang teguh dengannya maka ia adalah saudara, walaupun
dipisahkan oleh tempat dan waktu… suatu ikatan suci yang dihubungkan
oleh ikatan manhaj, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan para shahabatnya.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala, senantiasa menjauhkan kita
semua dari perpecahan, dan menyatukan kita semua di atas persatuan
hakiki yang berasaskan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dengan pemahaman As- Salafush Shalih.
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=118%20

Bersatu dan Berpisah Karena Allah
Selasa, 29-Januari-2008, Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc
sumber: http://www.darussalaf.or.id

Tuesday, January 6, 2009

Qunut NAziLah



sumber : http://marufclub.blogspot.com/

Friday, December 26, 2008

Siapakah Golongan Yang Tercicir?


Dan jangan lah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan jangan lah kamu sembunyikan kebenaran,sedangkan kamu mengetahuinya..QS(al-Baqarah : ayat 42)

Siapakah Golongan Yang Tercicir ?

Penulis : Mohd Hairi Nonchi (Pendidikan Dengan Sains Sosial, UMS)


Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a di mana beliau berkata:


“Di suatu ketika Rasulullah s.a.w telah melalui sebuah kawasan perkuburan, seraya bersabda: “Salam sejahtera ke atas kamu, wahai perkampungan orang-orang beriman! Kita akan menyusul bersama kamu. Insya’Allah, aku berharap aku dapat melihat saudara-saudaraku”. Bertanya para sahabat yang hadir ketika itu: “Wahai Rasulullah! Bukankah kami ini saudara kamu?”. Rasulullah s.a.w menjawab: “Tidak, kamu adalah sahabat-sahabat aku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang akan datang di kemudian hari (selepas kewafatanku) dan aku memimpin mereka ke telaga Hawdh”.


Para sahabat bertanya lagi: “Wahai Rasulullah! Bagaimanakah kamu akan mengenali umat-umat yang akan datang selepas (kewafatan) kamu?”. Rasulullah s.a.w menjawab: “Tidakkah seseorang yang memiliki seekor kuda yang berkaki putih di kalangan beberapa ekor kuda yang hitam dapat mengenali yang mana satukah kudanya?” (Jawab para sahabat) “Sudah tentu ya Rasulullah!”.


Rasulullah meneruskan: “Sesungguhnya mereka (umat Islam selepas kewafatan Rasulullah) akan datang di hari Kebangitan (Kiamat) dengan tanda-tanda keputihan di dahi, tangan dan kaki mereka disebabkan oleh kesan-kesan wudhu’, dan aku akan memimpin mereka ke arah telaga Hawdh. Akan tetapi, ada di antara mereka yang akan dihalau daripada telaga Hawdh seperti unta-unta berkeliaran. Lalu aku memanggil-manggil akan mereka: “ Datanglah ke mari! (sebanyak 3 kali)”. Dan ketika itu seseorang (atau suatu suara) yang akan berkata: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah menukar-nukar perkara (agama) selepas engkau”. Lalu aku akan berkata pula: “Jikalau begitu pergilah mereka, pergilah mereka, pergilah mereka!” [Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwwatha’, hadis no: 26-29]


Pengajaran Hadis :


Dalam hadis yang tertera di atas Rasulullah s.a.w telah mengkhabarkan kepada kita mengenai suasana yang bakal berlaku pada hari Kiamat di mana pada hari itu umatnya akan terbahagi kepada dua golongan, yang pertama adalah mereka yang berjaya mendatangi telaga al-Hawh, iaitu sebuah telaga minuman yang disediakan oleh Allah khusus untuk umat Nabi s.a.w. Manakala yang kedua adalah mereka yang tercicir daripada memperolehi nikmat tersebut. Risalah ringkas ini akan menumpukan perbincangan mengenai siapakah golongan kedua yang malang itu.


Jika diperhatikan dalam matan (teks) hadis tersebut, Rasulullah s.a.w ada menyebut : “ …tanda-tanda keputihan di dahi, tangan dan kaki mereka disebabkan oleh kesan-kesan wudhu’...”. Kenyataan baginda s.a.w ini mengisyaratkan kepada kita bahawa mereka semua adalah kelompok umatnya yang terdiri daripada golongan ahli ibadah.


Namun, seperkara yang memeranjatkan kita ialah dalam hadis tersebut juga Rasulullah s.a.w ada menyebut: “ ada di antara mereka yang akan dihalau daripada telaga Hawdh seperti unta-unta berkeliaran..”. Daripada pernyataan Rasulullah s.a.w ini maka dapat difahami bahawa dalam kalangan “orang-orang yang beribadah” itu akan ada sekelompok dari mereka yang akan dihalau dari telaga al-Hawdh Rasulullah s.a.w. Di sini timbul persoalan, siapakah mereka ? Mengapakah mereka dihalau oleh baginda s.a.w sedangkan mereka juga termasuk umat Nabi Muhammad s.a.w dan kalangan ahli ibadah?


Persoalan ini dapat dijawab dengan memerhatikan hujung matan (teks) hadis itu sendiri : “Mereka itu adalah orang-orang yang telah menukar-nukar perkara (agama) selepas engkau”. Dengan jawapan ini, maka tidak syak lagi bagi kita bahawa mereka adalah golongan ahli ibadah yang gemar melakukan amalan-amalan bid’ah di dalam agama. Atas kesedaran ini, ingin penulis mengambil kesempatan untuk memperingati kaum Muslimin dan Muslimat agar senantiasa memerhatikan amal ibadah yang kita kerjakan selama ini. Apakah ianya sesuatu yang bertsabitan dari al-Sunnah Rasulullah s.a.w yang sahih atau tidak.


Hal ini perlu diberi perhatian oleh semua pihak memandangkan ianya melibatkan status kita di akhirat kelak, apakah kita termasuk dalam golongan yang selamat dan mendapat kemuliaan mendatangi telaga al-Hawdh itu atau sebaliknya. Janganlah kerana kita termasuk dalam kategori “ahli ibadah” kita mengambil sikap sambil lewa, lantas cuai dan leka di dalam memerhatikan kesahihan amalan yang telah atau akan kita lakukan. Ingatlah, sekadar beribadah sahaja tidak akan mampu menyelamatkan kita dari menerima azab Allah. Dengan hanya beribadah sahaja tidak akan dapat menjanjikan pembelaan Rasulullah s.a.w di hadapan Mahkamah Allah kelak- jika ibadah yang dilakukan itu termasuk dalam amalan-amalan yang jauh dari petunjuk al-Sunnah Rasulullah.


Oleh itu, marilah kita bersama-sama berittiba’ (mengikuti) kepada Sunnah Rasulullah s.a.w yang sahih, dan menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan bid’ah dalam agama agar kita tidak termasuk dalam kelompok “yang akan dihalau daripada telaga Hawdh seperti unta-unta berkeliaran..” sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah s.a.w menerusi hadisnya di atas.

sumber: http://nasa-peace.blogspot.com/

Monday, December 1, 2008

Keunggulan akhlaq serlahan iman dalam dada..

"Mukhayyam 2008"










assalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. bismillahirrahmanirrahim.

alhamdulillah selama dua hari lepas saya telah mengikuti satu perkhemahan. alhamdulillah sangat indah pengalamn itu. mahu rasanya saya berkongsi dengan semua. setiap kali program baru saya hadiri setiap itulah bertambah ilmu dan pengalaman.saya tersentuh dengan pengisian seorang pengisi tajuknya "tadabbur alam". mungkin saja isinya hampir sama dan saya pernah dengar selama ini namun ada satu kekaguman dan ketakjuban saya pada kuasa ALLAH yang terbias pada lewat lantunan kata-kata yang keluar dari bibir pengisi ini. dalam perkhemahan ini ada seorang akhowat yang sudah berusia 50 an menceritakan pengalamannya membesarkan anak-anak dengan takdir ALLAH berjaya menjadi insan rabbani nan qura'ni. lantas bila cerita -cerita keindahan akhlaq anak-anak ini disampaikan kepada pengisi tersebut, tidak lah keluar dari mulutnya melainkan kalimah HAMDALAH, MASYAALLAH, SUBHANALLAH diiringi senyuman yang terpancar penuh keikhlasan. saya mula menyuluh diri saya tatkala itu, adakah saya juga begitu? adakah kalimah yang keluar dr bibir saya juga begitu bila sesuatu ketakjuban terlintas di hati saya, astaghfirullah...

saya mengkoreksi diri.benar, selama ini kita banyak berteori..saya mengajukan ketakjuban dan kelemahan diri kepada beberapa akhowat sewaktu kami dalam perjalanan pulang dari jungle traking,sebetulnya perjalanan yang berakhir di pantai yang sangat indah itu. saat itu saya berkongsi perasaan saya pada akhowat. alhamdulillah kami mengakuinya . dan salah seorang akhowat membuat kesimpulan , itulah biasan hati dari keimanan yang ada dalam dada seseorang insan. setiap tutur kata, perawakan diri dan akhlaq adalah terbit dari cahaya keimanan yang menyuluh dalam hatinya. jadi,kondisi iman kita bagaimana ya sekarang? adakah telah mampu kita biaskan ke sekeliling kita? subhanallah pengajaran yang sangat hebat ALLAH nak khabarkan pada saya ketika itu. kalau sebelum tu selalu yang akan keluar dari bibir kalau dikhabarkan sesuatu yang gembira oleh kawan-kawan mesti akan kata" wah! bestnya ! tapi kini apa kata kita tukar kepada "masyaALLAH!!! seharusnya begini, kerana segala yang baik itu kita pulangkan kepada yang MAHA BAIK..subhanallah!

subahanallah, maha suci ALLAH..Alhamdulillah, segala puji bagi ALLAH , ALLAHuakbar, ALLAH yang maha besar...segala pujian hanya untukMU..

jazakALLAH khair kepada teman-teman seperjuangan yang banyak membantu mentarbiyah diri ini. bersama mencetak peribadi insan rabbani nan qurani.

Saturday, October 25, 2008

Halaqah yang diimpi...

Dan jangan lah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan jangan lah kamu sembunyikan kebenaran,sedangkan kamu mengetahuinya..QS(al-Baqarah : ayat 42)...



kita tadabbur sebentar ayat di atas...halaqah,medan menyemai cinta atau menyebar masalah???

halaqah adalah satu terma yang tidak asing lagi bagi penggerak dakwah. dalam halaqah inilah kita saling berkongsi ilmu dan berlapang dada dengan perbezaan fikrah. itu antara perkara yang sewajarnya terjadi. namun , tanpa kita sedar, halaqah yang dikatakan sebagai medan ilmu dan menampung kekurangan dan berkongsi kelemahan anggota itu telah menjadi satu beban yang membuatkan murobbi/murobbiyah sakit kepala lantas surrender untuk mentarbiyah mutarabbi/mutarabbiyah nya. kenapa hal ini terjadi? adakah disebabkan oleh permasalahan yang dicetuskan oleh mutarabbi/mutarabbiyah itu atau diri murobbi/murobbiyah yang tersalah menilai. adakah kita ingin mengajak insan kepada kebaikan dengan membekali mereka dengan halaqah ataukah kita ingin menjadikan halaqah adalah medan untuk mengumpul pengikut? atas nama mengkaderkan ahli untuk bersama-sama berkerja dalam jalan islam atau mengkader ahli untuk satu"click" denagn kita. hal ini ternyata berbeza ikhwah akhowati fillah. jadikan halaqah itu medan menyemai cinta bukan medan menyemai benih prasangka yang tak berkesudahan hingga ternyata setelah halaqah demi halaqah bukan cinta pada jalan ini yang bertambah tapi bimbangnya bertambah dosa yang mencalari hati. dosa mengumpat,dosa menyebarkan keaiban,dosa memboikot dan sebagainya nya lagi. hingga mana lari ketulenan jamaah penegak ummah kepada jemaah penegak kebatilan lantaran merekrut ahli untuk tsiqah pada insan bukan pada TUHAN...FIKIR-FIKIRKAN LAH...

Monday, October 13, 2008

R&R...

assalaaamualaikum...selamat berpuasa sunnat di bulan syawal.saya tengok sekarang ikhwah akhowat dah semakin mantap mengisi blog mereka. tahniah di ucapkan . moga usaha dakwah antum yang bersungguh - sungguh itu diberkati ar- Rahman. masa dalam perjalanan balik kampung tu, dalam bus terfikir juga nak tutup blog ni,sebab saya rasa saya tak dak apa2 sumbangan dalam penulisan dan tak pandai berkarya dalam lapangan ni. bila tengok blog ikhwah akhowat, mantapnya.ntahla,kadang-kadang saya rasa saya tidak ada kelebihan dan kemahiran dalam penulisan dan tidak faqih dalam ilmu agama untuk berkongsi dengan semua. entahlah , setakat ini saya tidak tahu apa kelebihan dan sumbangan saya pada dakwah ini,pada islam. akhowat dan ikhwah pulak ada yang faqih dalam bidang fiqh, dalam bab akhlaq mereka juga juara,dalam bab haraki mereka juga terkedepan.malah seimbang semuanya..mungkin ini bukan lapangan dakwah saya walaupun saya sangat meminati bidang penulisan dan karya-karya kreatif.. .10 oktober hari tu saya balik kampung ada hal penting yang perlu di uruskan di rumah, pusat latihan memandu yang saya daftar tu beritahu yang tarikh mendaftar saya sudah hampir setahun tetapi ujian berkomputer belum saya ambil . jadi mereka kata kesemua duit yang saya bayar untuk lesen tu akan burn macam tu ja kalau tak ambik ujian komputer sebelum november ni.. aduh,mana boleh.mahal tu. .terfikir juga sendiri..sibuk sangat ka aku ni sampai lesen moto pun tak dapat habiskan sampai sekarang,syukurla ujian statik tu lulus..alhamdulillah.selama ni saya naik moto kat penang ni takda lesen la. nasib baik tak pernah kena saman . jadi, hari tu terpaksa lah balik kedah juga untuk buat ujian tu. sebab lesen tu sangat penting untuk pergerakan dakwah saya di sisni. yang paling mengharukan saya , 3 orang akhowat dengan seikhlas hatinya datang rumah saya untuk menziarahi ibu saya, mereka tido satu malam dan keesokannya harinya kami bertolak balik ke penang dengan kereta akhowat tersebut. seronok dengan kehadiran mereka . dapat lah berkenalan dengan mak dan keluarga saya. jazakillah khair pada akhowat yang datang(kak epi,ukht liza,ukhti zaleha). dan pada yang nak datang( ukht mimi,kak zura,kak raja) tapi tak boleh sebab ada test dan discussion malam tu, tak pa moga niat baik antunna ALLAH balas. Lain kali ada rezeki boleh la datang..mai cek oi mai cek mai ,kita ke negeri kedah....

Thursday, September 25, 2008

Di sini cinta punya hirarki...

“Aku mencintaimu wahai Rasulullah melebihi cintaku pada semua yang lain kecuali diriku sendiri.” Begitu Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah saw. Ia hendak menyatakan cintanya kepada Sang Rasul. Dengan caranya sendiri. Tapi ia tidak menduga kalau jawaban Sang Rasul justru berbeda sama sekali. “Tidak! Wahai Umar! Sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri”, jawab Rasulullah saw.
Itu ciri utamanya. Hirarki. Cinta misi berawal dan berujung pada satu dan hanya satu nama: Allah Subahanahu Wataala. Tapi Allah yang menjadi awal dan akhir dari semua cinta berkata kepada Nabi dan kekasih-Nya, Muhammad saw: “Katakanlah kepada mereka, jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku.” Maka cinta kepada Allah harus turun pada cinta kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. Tapi cinta kepada Muhammad saw mengharuskan kita mencintai semua manusia yang telah beriman kepadanya, khususnya para anggota keluarga yang luhur dan sahabat-sahabatnya yang mulia, dan kepada semua generasi yang datang sesudah mereka dari para tabiin dan pengikut para tabiin, serta siapapun yang mengikuti jalan hidup (manhaj) mereka dari kaum salaf bersama seluruh generasi mukmin hingga hari kiamat.
Cukup? Belum! Masih ada lagi. Cinta pada orang-orang beriman mengharuskan kita mencintai semua ‘pekerjaan’ yang mendekatkan kita kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Jadi cinta kepada Allah harus turun pada orang dan pekerjaan. Orang-orang itu terdiri dari Nabi dan semua orang beriman. Pekerjaan itu terdiri dari semua amal saleh.
Begitu hirarkinya. Semua cinta kita yang lain hanya akan menjadi lurus kalau ia menyesuaikan diri dengan hirarki ini. Cinta pada istri-istri dan anak-anak dan sanak saudara dan handai taulan dan sahabat karib dan rumah-rumah dan mobil-mobil dan harta-harta dan semua dan semua hanya akan menjadi lurus jika ia berada dalam ruang besar yang bernama cinta kepada Allah swt. Perasaan kita harus ditata dalam struktur cinta seperti itu.
Cinta misi adalah sebuah ruang besar tanpa batas. Semua cinta yang lain harus disusun secara proporsional dalam ruang besar itu. Tidak mudah memang. Tapi inilah sumber keharmonisan jiwa manusia. Hanya ketika emosi tertata secara apik dalam hirarki cinta misi, kita menemukan pemaknaan yang hakiki terhadap semua aliran emosi kita yang lain. Persis seperti anak-anak sungai yang mengalir sendiri-sendiri: pada mulanya menyatu di hulu, lalu tampak berpencar di tengah, tapi kemudian bertemu lagi di muara.
Dengan cara itu Al Banna memaknai cintanya pada Allah dan dakwah. Suatu saat anaknya terbaring sakit. Panasnya meninggi. Istrinya panik. Beliau sendiri sedang menjalankan sebuah aktivitas dakwah. Tapi sang istri memanggilnya pulang. Ia tidak kuat sendiri meghadapinya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada anak mereka. Tapi sang dai menjawab enteng: “Ajalnya ada di tangan Allah. Kedatanganku tidak akan menambah atau menguranginya.”
*Anis Matta*

sumber: http://hariharihariyadi.wordpress.com/2008/07/19/disini-cinta-punya-hirarki/

Friday, September 12, 2008

Puisi cetusan hati untuk ikhwah wa akhowat...

assalaamualaikum...

Insan-insan yang sering merindui tarbiyah dari ALLAH,insan-insan yang sering merindui kebenaran...di sini saya ciptakan sebuah puisi untuk mujahid dan mujahidah dakwah...agar kita bisa faham,renungi dengan mata hati dan ainul yaqeen...

Ikhwah akhwati fillah..

Terus teguh lah dalam perjuangan,
walau kadang-kadang sering merasa sendiri di medan,
walaupun panglima lain dari penjuru berbeza,
kau tetap punya pahlawan di belakangmu,
untuk terus teguh menyerang.
Akan tetapi,memberi laluan dan harapan pada panglima lain harus kau perhatikan.
mungkin masa yang lama diperlukan mereka untuk seiring dengan mu...
berikan mereka masa...
dan sememangnya mereka perlukan masa...
begitu jua kita wahai ikhwah...perhatikanlah tentang itu..
salam muhasabah...

cetusan suara hati oleh,
ukht Rahilah saat badai melanda menimbulkan caca merba dalam perjalanan iman,
hentikan langkahmu sebentar untuk mencedok ibrah ketentuan ketentuan Ilahi...
tasik hati ini kembali bergenang...ya ILAHI....

12 Ramadhan 1429 H/ 12 September 2008 M

Wednesday, August 20, 2008

Intifada!!!

Rahilah bintun mohammad zain…

Hiduplah untuk islam…serahkan sepenuh jiwa raga dan pengharapanmu hanya pada ALLAH…
intifada!!! intifada!!! intifada!!!

Masih basah kenangan indah,
Zaman cemerlang era gemilang,
Ketika Rasul ada di sisi,
Para sahabat mentadbir bumi,
Zaman nubuwwah, era khulafa',
Islam laksana api yang menyala,
Menerangi teman dan juga sahabat,
Bahang panas yang membakar lawan,
Di celah itulah,Kami mengatur langkah,
Membina semula ukhwah,
Di sini bara tak pernah padam,
Digenggam kukuh sebuah azam,
Ayuhlah para mujahid,
Ayuhlah para mujahidah,
Kita tinggalkan zaman fitnah,
Agar tertegak kalimah Allah,
Agar terbangun dunia baru Islam....

Penyanyi : The Zikr












Monday, August 11, 2008

Duhai peladang! jangan pernah meninggalkan parang



sumber gambar: http://www1.moe.edu.sg




Alangkah indahnya hidup seperti peladang,golongan ini tidak betah meninggalkan parang,meninggalkan cangkul lantas biar bermandi keringat kepayahan lantaran mendambakan hasil yang lumayan dinikmati. Kerana mereka adalah peladang...orang yang sangat arif tentang perubahan iklim,perubahan tanamannya. Justeru menjaga dan memeliharalah semua yang ditanam seawal tanah yang dibajak,benih yang ditabur ,air yang disiram..Kerana mereka seorang peladang yang tidak pernah meninggalkan parang..begitu juga andai kita sedar tanggungjawab seorang khalifah ALLAH sebagai hamba ALLAH..kita tidakkan pernah meninggalkan ibadah sebagai perisai menghadapi babi hutan,musang jantan,serangga perosak.Bukankah kita seorang peladang juga.Yang hidup mengabdi diri pada Tuhannya.ladang tempat bercucuk tanam,tempat menghidup udara tempat meluah asa hidup.Tapi bagaimana kita justeru seorang peladang? Adakah benar kita menjaga sumber tanaman kita?Benih yang ditabur,ibadah yang digembur? Lantaran kehadiran perosak yang selalu mencari peluang dan ruang menikmati kepentingan,habuan terhidang di ladang.Mahu benar kah kita menjadi peladang yang meninggalkan parang tikamana serangan babi hutan berkocak,serangan rumpai menjalar?Oleh itu jadilah seorang peladang yang sentiasa waspada,bentengi diri dengan parang keimanan.Biar mati babi hutan di halau,biar musnah rumpai menjalar perosak kedamaian dan ketenangan ummah.Kerana disitu kepentingan di dapatkan,kehidupan harus diteruskan kerana hidup sebuah perjalanan dan perjuangan...

Al- Quran : As-saffat(37): ayat 61

untuk kemenangan yang serupa ini,hendaklah beramal orang yang mampu beramal.

Al- Baqarah (2): ayat 218

sesungguhnya orang-orang yang beriman,dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan ALLAH ,mereka itulah yang mengharapkan rahmat ALLAH. ALLAH maha pengampun maha penyayang.

Thursday, August 7, 2008

Tarbiyah Dzatiyah




Definisi

  • sarana tarbiyah
  • Diberikan oleh muslim kepada dirinya sendiri
  • Untuk naik ke tingkat kesempurnaan
  • tarbiyah seorang terhadap dirinya sendiri


kepentingan




  • Menjaga diri terlebih dahulu sebelum menjaga orang lain
  • jika bukan kita yang mentarbiyah diri sendiri siapa lagi?
  • Hisab kelak bersifat individual
  • mampu membuat perubahan besar
  • sarana tsabat/teguh dan istiqamah
  • sarana dakwah paling kuat
  • cara benar dalam memulih realiti kini
  • keistimewaannya!


sarana




  • muhasabah diri
  • taubat dari segala dosa
  • mencari ilmu dan memperluas wawasan
  • mengerjakan amalan-amalan iman
  • memperhatikan aspek akhlaq
  • terlibat dlm aktiviti dakwah
  • mujahadah
  • berdoa kepada Allah


Buah tarbiyah dzatiyah




  • Keredhaan Allah dan syurganya
  • sakinah
  • dicintai Allah
  • sukses
  • terjaga dari keburukan
  • waktu dan harta berkat
  • sabar atas ujian

Tapi,kenapa ramai yang tak peduli???

  • Minimanya ilmu
  • tidak jelas dengan haluan dan sasaran hidup
  • alpa dengan dunia
  • salah faham terhadap tarbiyah
  • minimanya asas tarbiyah
  • murobbi yang kurang berperanan
  • panjang angan-angan.

Wednesday, July 30, 2008

Aplikasi 7 habits most highly efective people by stephen covey ke atas dakwah dan pelajaran.

assalaamualaikum...alhamdulillah ALLAH masih memanjangkan umur,memudahkan saya untuk berkongsi dengan pembaca sedikit sebanyak ilmu yang diperoleh.Seringkali ramai di kalangan kita menjadikan dakwah itu satu tuntutan yang membebankan,seringkali...maka agar kita tidak berterusan berfikir tentang itu akan tetapi cuba memahaminya dalam konteks sunnatullah dan syariatullah yang perlu diseimbangkan maka eloklah artikel ini dikongsikan dan cuba sebolehnya dicernakan.Tulisan artikel ini disediakan berminggu-minggu kerana memikirkan apa yang patut dimasukkan dan bagaimana mahu mengolahnya. supaya dengan ini dapat memahamkan saya tentang islam yang syumul ini dan begitu juga kalian semua.semoga bermanfaat.


Habits 1- Be proactive


Pelajar harus proaktif dalam setiap kuliah dan tugasan yang diberikan dengan mencari bahan rujukan dan bertanyakan soalan agar dapat memahami dengan lebih baik apa yang dipelajari dan sifat proaktif akan menjadikan kita pelajar yang bukan sekadar “ spoon feeding “terhadap apa yang dipelajari.Pastikan apa yang kita buat adalah bersungguh-sungguh agar dapat mencapai target yang maksimun bukan sekadar melepaskan batuk di tangga..Begitu juga dengan dakwah kita haruslah proaktif mencari ruang dan peluang yang ada untuk menyebarkan risalah Islam agar dapat menakluki dunia. Sejarah para nabi dan sahabat telah membuktikan fakta ini.Para sahabat dan pejuang islam mempunyai pegangan akidah yang teguh dan yakin. Bersandarkan sabda Rasulullah s.a.w: "Sampaikan daripadaku walaupun satu ayat “Terdapat sahabat yang hanya setelah menerima kalimah syahadah dari Rasulullah terus dengan kuat hati mampu untuk mendakwahi kaum jahiliah pada ketika itu seterusnya seruan terhadap islam diterima malahan tersebar ke pelosok dunia hari ini.Hal ini lantaran sikap para sahabat dan Rasulullah yang proaktif serta bijak mencari ruang dan peluang untuk berdakwah.Allah berfirman “. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.al-Quran surah an-nahl(16):ayat125 .Stimulus atau rangsangan yang mereka terima itu termasuklah dalam bentuk tentangan dan penyiksaan tidak sedikitpun mampu mematahkan keinginan hati mereka untuk terus menyebarkan islam bahkan ia menjadi sebuah rangsangan yang kuat dan akhirnya menghasilkan respon yang tak kurang hebatnya bilamana islam terkenal seantero dunia.


Habit 2 – Begin with the ends in mind


Pasti sebelum bermula semester dalam pengajian, pensyarah akan memberikan jadual pengajaran dari minggu pertama hingga berakhirnya semester, maka merancang jadual pembelajaran dan mengulangkaji apa yang akan dipelajari sudah mula dirangka sejak awal dan di sinilah bermula semuanya. Para pelajar dapat merancang apa yang perlu dilakukan sepanjang semester itu,agar segalanya teratur dan berjalan lancar.Allah berfirman “ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).al Quran surah Al – Anfal (8):ayat 60.Begitu jua dengan dakwah harus tahu matlamat dan tujuan kita berdakwah, untuk apa dan kemana arah tujunya supaya jelas dan tepat setiap langkah dakwah yang diambil dengan strategi yang terancang. Dalam berdakwah minda hendaklah sentiasa di fokuskan kepada apa matlamat seruan dakwah itu,andai kepopularan dan terkenal itu menjadi matlamat utama kita berdakwah,nescaya rosaklah tujuan dakwah dan tergelincirlah hati dalam menata ummah. Fenomena ini bukan sedikit menghantui dan mewarnai medan dakwah hari ini ,justeru boleh terlihat di mana-mana rosaknya segelintir orang-orang agama yang menggunakan kedudukan yang disandang sebagai medan menyampaikn hajat mereka yang langsung terkeluar dari landasan sebenar tujuan dakwah itu. Sebagaimana Allah memberi peringatan “ Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru kepada Allah, di waktu pagi dan malam dengan mengharapkan keridaan-Nya, janganlah kamu berpaling dari mereka kerana mengharapkan perhiasan (habuan) kehidupan dunia ini, janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami serta mengikut hawa nafsu, sesungguhnya urusan hidup mereka telah melampaui batas”Al-Quran surah Al _kahf (18):28.


Habit 3- First thing first


Menentukan topik mana yang lebih penting dalam sebuah pembelajaran sangat penting dalam memudahkan kita semasa menghadapi exam dan pastinya pensyarah akan memberikan hint bagi topik-topik yang akan ditanya, maka menjadi keutamaan untuk kita mendahulukan untuk memahami topik yang disarankan berbanding topik-topik yang lain.Jika terdapat 2 “paper” dalam satu hari exam,kita perlulah memberi keutamaan dalam subjek yang kita lemah dahulu iaitu melebihkan masa belajar yang susah berbanding yang lain. Dalam dakwah sikap ini penting untuk menentukan mana yang lebih harus didahulukan untuk mengajak umat pada dakwah, individu yang mana harus ditasykil dahulu, apa topik yang penting untuk diutarakan, mana satu hendak diutamakan antara pelajaran dan dakwah, bagaimana menguruskannya, Dakwah adalah nombor satu tetapi pelajaran bukan yang kedua. Cuba fikirkan,andai kita menjadikan pelajaran dan dakwah suatu yang terpisah,sudah tentu kita merasakan bebanan itu bertambah,sedangkan jika kita tidak memisahkan kedua-dua elemen ini maka akan terbentuklah sebuah generasi di mana Allah lebih menyintai mukmin yang kuat dari mukmin yang lemah.Keutamaan dalam berdakwah iaitu dakwahilah saudara dan kaum kerabat terdekatmu sebelum dakwahi yang lain. Ini terbukti dengan firman Allah “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, Al-Quran surah as-syuara(26):214.Oleh itu,walaupun kita sibuk berusaha mengislahkan ummah jangan pula kita lupa kepada ahli keluarga kita mereka hingga mereka keciciran dari senarai seruan dakwah yang kita sampaikn.Mana mungkin tertegaknya sebuah daulah islamiyah seandainya baitul muslim itu tidak berjaya ditegakkan berdasarkan landasan al –quran dan as-sunnah.


Habit 4- Win win solution


Dalam study seharusnya seimbang dari segi masa yang digunakan agar masa lapang tidak hanya sibuk membaca buku pelajaran sehingga lupa membaca buku agama, atau sibuk membaca buku agama tapi jarang membaca buku pelajaran, ia haruslah seimbang antara keduanya. Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud: “Bukan yang terbaik di antara kamu yang mendahulukan akhirat sementara dunia ditinggalkan atau mendahulukan dunia sementara akhirat ditinggalkan. Yang terbaik di antara kamu adalah yang menghimpun keduanya” Dalam berdakwah juga seharusnya seimbang dalam pergaulan antara sesama sahabat yang ikut tarbiyah dan yang tidak ikut tarbiyah agar kita tidak hanya syok sendiri dan dakwah hanya berlegar dalam jemaah kita semata-mata dan merasakan yang tidak ikut tarbiyah sudah tiada harapan untuk ditarik bersama dalam dakwah ini.Usahakan untuk mencari penyelesaian menang-menang dan seimbang. Hal ini kerana kita tidak akan mencapai taraf kesempurnaan sebagai seorang mukmin jika bilamana kita mengabaikan salah satu daripada hak iaitu hak terhadap ALLAH dan yang keduanya hak sesama makhluk.Firman Allah dalam surah Al-asr ayat 3 iaitu kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menaihati supaya dalam kesabaran. Maka apabila Berjaya ditunaikan kedua-dua hak ini maka sempurnalah keimanan kita.

Habit 5 – First to be understand than to be understood


Kegagalan pelajar memahami apa yg dipelajari seringkali mengundang masalah semasa sesi pembelajaran bermula dan keegoan diri untuk tidak mahu cuba memahami apa yang pensyarah sampaikan dan terangkan semasa kuliah menyebabkan penyarah juga gagal memahami masalah pelajarnya yang seringkali tertidur semasa kuliah. Memahami apa yg dipelajari mudah-mudahan memudahkan pensyarah memahami apa yang pelajarnya belum faham iaitu melalui pertanyaan pelajar.Kebanyakan pelajar tidak faham tapi buat-buat faham kerana malu untuk bertanya bimbang diketawakan atas pelbagai alasan lagi. Benar malu itu adalah sebahagian daripada keimanan sebagaimana Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: "Malu itu adalah sebahagian daripada iman" (hadith riwayat Muslim dan At-Tirmizi). Berdasarkan hadith ini, orang yang mengaku beriman perlulah punya sifat malu. Apabila berkurang atau tiada rasa malu, maka itu tanda kelemahan atau ketiadaan iman.Dalam belajar kita perlu membuang rasa malu untuk dapat ilmu, Pokoknya harus ada saling komunikasi antara pensyarah dan pelajarnya berkaitan dengan subjek yg sedang dipelajari. Dakwah seharusnya lebih membuatkan kita tawaduk dengan mendengar pendapat dan pandangan orang lain berbanding bertegang leher mempertahankan pendapat sendiri hingga kadang-kadang memutuskan ukhwah yang telah lama terjalin.Allah berfirman orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadapAllah,supaya kamu mendapat rahmat ,al –Quran surah al-hujurat (49):ayat 10..Fahamilah medan dakwah kita agar masyarakat akan memahami mesej dakwah yang ingin kita sampaikan. Fahamkan dirimu tentang orang lain sebelum kita ingin orang lain memahami kita seadanya.

Habit 6 – Synergize


Sinergi adalah hasil kerjasama individu yang mempunyai kreativiti yang berlainan dapat menghasilkan impak yang baik.Dalam kontek belajar,setiap pelajar mempunyai kemahiran dan kepakaran tersendiri.Belajar berkumpulan merupakan landasan aplikasi sinergi yang mana pelajar berkongsi ilmu sesama mereka..Selain itu pelajar dapat memberi sokongan moral dan kata-kata perangsang agar kawan yang kurang berkeyakinan menjadi lebih yakin dan bersemangat.Begitu juga dalam berdakwah.Lelaki dan perempuan adalah dua individu yang memiliki sifat yang berbeza namun penciptaannya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.Lelaki dan wanita saling bekerja sama dalam berdakwah seperti mana firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 71 yang bermaksud ’’Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Setiap insan ada kelebihan dan kemahiran yang tersendiri.Pelbagai cara boleh berdakwah melalui lisan ,menulis ataupun akhlak. Matlamat dan tujuan kita sama iaitu mardhatillah.Justeru itu kita harus mengetahui di mana potensi diri untuk mencari medan dakwah yang sesuai agar mencetuskan hasil maksima.Sebagaimana firman Allah “dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu al Quran surah al-Baqarah(2);ayat 148.

Habit 7- Sharpen the saw


Setelah semua habit di atas dilakukan sebaik mungkin, pasti akan sampai satu saat masa jemu tiba, maka mengembalikan kekuatan dan kesegaran sikap-sikap di atas tidak harus dibiarkan sahaja, mengingatkan kembali tujuan dan matlamat untuk belajar, focus dengan pelajaran , mendahulukan mana yang penting, seimbangkan masa sebaiknya, mengulangkaji pelajaran, membangkitkan energi diri harus kembali disusun dan dirangka kembali kerana manusia sifatnya pelupa serta lemah memerlukan penyegaran kembali apa yang telah dilakukan sebelum ini. Antaranya seperti mengambil masa beberapa hari untuk bercuti dan makan angin,hal ini sangat membantu untuk meningkatkan kesegaran minda dan pemikiran serta membantu rehat yang baik. Selain itu mengikuti program-program berbentuk motivasi juga dapat meningkatkan semangat dan keyakinan diri untuk berjaya. . Energi diri yang kuat dan bersemangat harus hadir agar tegar menghadapi musim-musim down semasa pengajian dan mencari aktiviti-aktiviti yang dapat menaikkan tenaga dan semangat diri harus diusahakan agar tidak terus terkapai-kapai dalam kelesuan dan kemalasan yang berpanjangan.
Cuba kita berfikir sejenak mengapa disyariaatkan kepada umat islam berpuasa sebulan di bulan Ramadhan dan disertai pula puasa sunat enam hari di bulan syawal? Selama 11 bulan kita makan,sistem percernaan kita bertungkus-lumus menjalankan fungsinya.Ia juga perlu berehat dan mengambil masa perbaiki sistem percernaan untuk bekerja 11 bulan seterusnya.Bersesuaian dengan perintah Allah mensyariatkan puasa. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa al-Quran surah al-Baqarah(2):ayat 183. setiap syariaat yang diturunkan oleh Allah mempunyai hikmah yang maha luas. Selain itu kita juga dapat mendekatkan diri kepada Allah serta melatih diri bersyukur atas nikmat yang diperoleh. Perkara utama adalah bertawakal dan berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan melaksanakan apa yang dirancang.Bersesuaian dengan firman Allah "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." Al-quran surah al-Mukmin (40):ayat 60. Dakwah harus ada masa muhasabah dan meneliti kembali usaha dan kesan keatas usaha tersebut. Perkembangan dakwah harus dipantau agar sisi kerja mana yang tidak sempurna dapat dibaiki. Dakwah juga ada masa-masa downnya, maka energi diri untuk terus berdakwah harus digerakkan sebaiknya dengan amalan yang konsisten, nasihat sahabat yang baik, perkelahan islami dan apa sahaja yang dapat membangkitkan kembali semangat diri untuk berdakwah kembali.

Saturday, July 19, 2008

Aku ingin melangkah jauh...

Aku ingin melangkah jauh.....
jauh meninggalkan dunia yang membaluti diriku tika ini....
saat ini senak dada dan sendu hati menerjah-nerjah nubariku...
aku tidak ingin begini...
aku ingin bebas dari kemelut dunia,
hambatan-hambatan bersifat duniawi,
yang tak pernah alpa menyerang kotak minda insan..
aku hamba..kamu juga hamba...
kenapa kita tidak bersifat seperti hamba...
seorang hamba itu akan sangat mematuhi segenap perintah tuannya..
terhadap TUHAN kita...
saat aku menangis mengadu rayu padamu TUHAN...
aku mohon kekuatan di jalan yang Engkau pilih ini..
aku mahukan redhaMu...
cukuplah hambatan-hambatan dunia itu...
aku serahkan sepenuh hidupku di jalan MU ya ALLAH..
coraklah dan warnailah hidupku semahu MU..
agar sampai ke puncak redha itu...

TUHANku...

aku begitu menyintai saudara-saudara seperjuangan ku
yang sama-sama aku bermula bersama mereka..

aku mahu mereka merasai nikmatnya perjuangan itu
biarpun harus bermandi air mata dan keringat kepayahan...